Cerita Sex Dewasa Terkini Bercinta Ruangan Rahasia
www.LigaEmas.com - Ratih yg saat ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas
swasta di kota S tinggal bersama ci Meisya yg menyewakan salah satu dari
2 kamarnya yg kosong kepada Ratih. Penampilan ci Meisya berbeda sekali
dengan Ratih: di umurnya yg hampir 30, ci Meisya bisa dibilang sangat
pandai merawat tubuhnya — kulit putih halus dengan ukuran payudara
sedang: 34. Parasnya cantik, rambut panjang bergelombang.
Rupanya, ci Meisya yg sudah lama tak merasakan belaian lelaki —
menyimpan; lebih tepatnya menimbun libido yg secara perlahan-lahan telah
menggerogoti mentalnya (walaupun belum sampe mengenai akal sehatnya).
Selama ditinggalkan pacarnya sejak 7 taun yg lalu, ia sering merasa
kesepian — tak jarang ia berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan
berbagai peralatan dan FILM yg disewanya/dibeli melalui pembantunya,
karna ia sendiri sebenarnya malu kalau harus terang-terangan membeli
atau menyewa benda-benda seperti itu.
Demikian pula untuk bermain dengan lelaki yg tak dikenal, ci Meisya
menganggap mereka tak bersih sehingga ia takut untuk berhubungan tubuh
dengan mereka. Tetapi demikian, ini tak mengurangi fantasi ci Meisya
dalem membaygkan bentuk seks yg diinginkannya. Bahkan sejak 2 taun yg
lalu, ia juga mulai tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan
sesamanya. Ini dapat dilihat dari reaksinya terhadap Ratih sehari-hari,
tak jarang ia menelan air ludah dan menjilati kedua bibirnya apabila
melihat Ratih mengnikmatan kaos ketat apabila ia ke kampus. Padahal,
bentuk tubuh Ratih begitu biasa — apalagi apabila dibandingkan dengan
dirinya sendiri yg jauh lebih seksi.
Apa yg dilihat pada diri Ratih adalah dirinya sendiri 10 taun silam;
ketika ia masih berada di awal-awal umur 20 taun: alim dan rajin —
tetapi begitu naif. Ci Meisya sendiri bertekad untuk memberinya
‘pelajaran’ suatu saat. Tetapi — sesudah agak lama tinggal bersama
Ratih, barulah Ci Meisya mengetaui bahwa ia sudah tak perawan lagi:
ketika ia masih SMP dulu — pacarnya sendiri memperkosanya dan sejak saat
itu, Ratih begitu minder dan seringkali menhindar dari pergaulan
sekitarnya, hingga saat ia kuliah. Ci Meisya mengetaui hal ini dari
Ratih sendiri yg memandang Ci Meisya sebagai perempuan yg sabar,
bijaksana dan dewasa.
Pucuk dicinta ulam tiba, seminggu yg lalu — adek ci Meisya yg laki-laki
tiba dan hendak menginap untuk satu bulan karna suatu urusan. ‘Sekali
tepuk 2 lalat’ — inilah yg ada dalem pikiran ci Meisya melihat adeknya
sendiri dan Ratih.
Rupanya, ci Meisya yg sudah lama tak merasakan belaian lelaki —
menyimpan; lebih tepatnya menimbun libido yg secara perlahan-lahan telah
menggerogoti mentalnya (walaupun belum sampe mengenai akal sehatnya).
Selama ditinggalkan pacarnya sejak 7 taun yg lalu, ia sering merasa
kesepian — tak jarang ia berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan
berbagai peralatan dan FILM yg disewanya/dibeli melalui pembantunya,
karna ia sendiri sebenarnya malu kalau harus terang-terangan membeli
atau menyewa benda-benda seperti itu.
Demikian pula untuk bermain dengan lelaki yg tak dikenal, ci Meisya
menganggap mereka tak bersih sehingga ia takut untuk berhubungan tubuh
dengan mereka. Tetapi demikian, ini tak mengurangi fantasi ci Meisya
dalem membaygkan bentuk seks yg diinginkannya. Bahkan sejak 2 taun yg
lalu, ia juga mulai tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan
sesamanya. Ini dapat dilihat dari reaksinya terhadap Ratih sehari-hari,
tak jarang ia menelan air ludah dan menjilati kedua bibirnya apabila
melihat Ratih mengnikmatan kaos ketat apabila ia ke kampus. Padahal,
bentuk tubuh Ratih begitu biasa — apalagi apabila dibandingkan dengan
dirinya sendiri yg jauh lebih seksi.
Apa yg dilihat pada diri Ratih adalah dirinya sendiri 10 taun silam;
ketika ia masih berada di awal-awal umur 20 taun: alim dan rajin —
tetapi begitu naif. Ci Meisya sendiri bertekad untuk memberinya
‘pelajaran’ suatu saat. Tetapi — sesudah agak lama tinggal bersama
Ratih, barulah Ci Meisya mengetaui bahwa ia sudah tak perawan lagi:
ketika ia masih SMP dulu — pacarnya sendiri memperkosanya dan sejak saat
itu, Ratih begitu minder dan seringkali menhindar dari pergaulan
sekitarnya, hingga saat ia kuliah. Ci Meisya mengetaui hal ini dari
Ratih sendiri yg memandang Ci Meisya sebagai perempuan yg sabar,
bijaksana dan dewasa.
Pucuk dicinta ulam tiba, seminggu yg lalu — adek ci Meisya yg laki-laki
tiba dan hendak menginap untuk satu bulan karna suatu urusan. ‘Sekali
tepuk 2 lalat’ — inilah yg ada dalem pikiran ci Meisya melihat adeknya
sendiri dan Ratih.
Suatu sore sejak 3 hari kedatengan adeknya — Ci Meisya sudah
mempersiapkan rencana yg baik: pertama adeknya, kemudian Ratih.
Biasanya, Ratih tiba di kos pukul 19:00 dan ia hendak memulai rencananya
itu pukul 18:30 dengan melakukan ‘pemanasan’ terhadap adeknya. Pukul
18:30, Meisya memanggil adeknya untuk masuk ke kamarnya. Tanpa
berprasangka apa-apa, adeknya masuk ke kamarnya. Dilihatnya Ci Meisya yg
mengnikmatan celana pendek jins ketat dan kaos tanpa lengan yg ketat
pula — ia sedang menghadap ke cermin dan mengikat rambutnya yg
bergelombang halus itu.
Melihat baygan adeknya di cermin, Ci Meisya tersenyum dan berkata:
“Masuk aja, cici cuman sebentar koq.” Diam-2, adeknya memperhatikan cicinya dan berpikir:
“Cantik juga, walaupun sudah kepala tiga. Tubuhnya juga begitu padat dan
seksi..” Ci Meisya yg mengerti bahwa dirinya sedang diperhatikan
adeknya sendiri cuma tersenyum simpul — tiba-tiba ia berdiri, mendekati
adeknya dan menggandeng tangannya. Adeknya kaget sekali tetapi ia tak
berkata apa2. Ci Meisya membimbing adeknya menuju sebuah pintu sambil
sesekali melirik ke belakang dan tersenyum simpul ke arah adeknya.
Ci Meisya membuka pintu kamar tersebut dan menyalakan lampunya.
Ternyata, apa yg dilihat adeknya adalah sesuatu yg mnikmatjubkan tetapi
juga membuatnya sedikit shock: sebuah kamar yg cukup luas — dengan
seluruh dinding ditutupi bahan kedap suara berwarna pink. Ranjang yg
terletak di tengah ruangan, sebuah TV lengkap dengan stereo-setnya yg
mewah: juga 3 teve hitam-putih kecil yg menampakkan situasi di ruang
tamu, kamar Ratih dan kamarnya sendiri.
Tetapi yg membuatnya begitu kaget dan sedikit takut adalah koleksi FILM,
video dan DVD dewasa yg berserakan di lantai. Berbagai alat bantu
seksual, dan sebuah manekin lengkap dengan penis palsunya segala. Taulah
ia apa yg diinginkan dari cicinya — tanpa disadarinya, Ci Meisya sudah
mengunci pintu kamar dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.
Tetapi ia berhenti sampe pakaian dalem aja. Jadilah Ci Meisya cuma
mengnikmatan BH dan celana-dalem warna hitam, ia berdiri begitu seksi
dan menggoda dengan rambutnya terikat (untuk memudahkannya saat
permainan nanti, begitulah yg ada di pikiran Ci Meisya).
“Sudahlah, kamu menurut aja — toh kamu disini cuma sebulan. Masa kamu
tak kasihan sama cici yg sudah lama tak merasakan hangatnya tubuh
lelaki?”
Adeknya masih ragu. Ci Meisya tau ini — dan tanpa membuang banyak waktu,
ia segera maju ke depan membuka celana pendek adeknya dengan mudah
(entah bagaimana, adeknya tak mampu melawan cicinya sendiri). Mulailah
ia mengoral batang kemaluan adeknya itu. Ci Meisya mempercepat gerakan
mengocoknya dengan tangan kanan, dia menengadah dan menatap wajah
adeknya dengan tatapan tajam penuh birahi — ia mendesis sambil berkata:
“Sss.. awas kalau kamu berani keluar sebelum aku. Lebih baik kamu cari
kos lain aja, meskipun kamu adekku!”
Sesudah berkata demikian, ci Meisya memasukkan seluruh batang kemaluan
adeknya ke dalem mulutnya. Ia menggerakkan kepalanya maju mundur —
membuat batang kemaluan adeknya keluar-masuk dengan sangat cepat. Adek
ci Meisya cuma dapat mengerang nikmat mendapat perlakuan seperti itu
dari cicinya yg ternyata sangat berpengalaman dalem hal memuaskan
pasangan mainnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk tak mengecewakan
cicinya. Di tengah-tengah permainan, Ci Meisya melepaskan BHnya dengan
tangan kirinya yg masih bebas. Diliriknya teve hitam putih yg secara
rahasia memonitor kamar Ratih. Ternyata ia baru aja dateng, dan waktu
menunjukan pukul 18:55. Tepatlah perhitungannya: adeknya yg nafsunya
sedang menanjak pasti akan mau diajaknya berkompromi.
Ci Meisya menghentikan oralnya, dan taulah ia bahwa adeknya agak kecewa.
“Tunggu sebentar — aku ada tugas buat kamu: bawalah Ratih ke kamar
ini.” Adeknya mengerti apa yg diinginkan ci Meisya. Sementara adeknya
pergi memanggil Ratih — ia segera mematikan monitor2-nya, melepas celana
dalemnya yg sedikit basah dan bersembunyi di sebelah pintu. Begitu
adeknya masuk bersama Ratih — ia segera mengunci kamarnya lagi dan
mendorong Ratih hingga jatuh ke ranjang. Ratih yg bertubuh kurus dan
lelah sehabis kuliah tak dapat memberikan perlawanan yg berarti terhadap
perlakuan Ci Meisya yg begitu tiba-tiba tersebut. Ci Meisya melucuti
kaos ketat yg diknikmatan Ratih dengan buas.
“Kyaa..!!” Ratih menjerit, tetapi percuma karna ruangan tersebut kedap
suara. Adek Ci Meisya cuma diam aja karna shock melihat keganasan
cicinya — apalagi dengan sesama jenis! Ci Meisya telah sampe pada BHnya.
Dengan kasar, ia merenggut BH Ratih dan melemparkannya ke lantai. Ci
Meisya melihat sepasang payudara Ratih yg kecil.
“Seharusnya kamu gag usah pakai BH sama sekali. Toh tak memberi
perbedaan yg berarti..” Ci Meisya melanjutkan dengan melepas kancing
celana jins Ratih dan membuka ritsluitngnya dan melepaskannya.
“Pahamu putih dan mulus juga yah..” Terakhir, Ci Meisya menurunkan
celana dalem Ratih. Ratih tak dapat berbuat apa-apa terhadap Ci Meisya
yg terus menggeraygi tubuhnya dan sesekali menciuminya. Tiba-tiba Ci
Meisya berdiri dan berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah penis palsu
(dildo) dan semacam lotion. Ia mengolesi dildonya dengan lotion
tersebut dan memberikannya kepada adeknya,
“Kamu pakai juga. Aku tak mau dia berteriak-teriak kesakitan.” Adek Ci
Meisya menurut — ia melepas seluruh pakaiannya dan mulai mengolesi
batang kemaluannya dengan lotion yg diberikan cicinya.
“Jangan ci.. saya takut.” Ratih yg sudah lemas berkata dengan penuh
kekuatiran, melihat ci Meisya mengnikmatan penis palsu (dildo) bergerigi
dengan ukuran yg cukup mengerikan seperti mengnikmatan celana dalem. Ci
Meisya dengan cepat bergerak ke arah Ratih. “Diam. Mana lotionnya.”
Sesudah mendapatkan lotion, ia mulai mengolesi dinding kemaluan Ratih
sambil berkata: “Kamu jangan takut, percaya sama cici aja. Sesudah itu,
ia membalikkan tubuh Ratih dan melumasi lubang pantatnya pula.
“Ayo — kamu lubang yg satunya!!” ci Meisya memerintahkan adeknya untuk
mengentot Ratih yg malang di lubang duburnya. Adeknya menurut, ia
berpindah — duduk di atas ranjang. Ci Meisya memapah tubuh Ratih dengan
lembut dan menempatkannya di atas adeknya. Ratih yg tak berdaya cuma
dapat memandang sorot mata penuh nafsu ci Meisya yg sedari tadi sibuk
mengatur posisi dan membantu adeknya memasukkan batang kemaluannya ke
dalem lubang dubur Ratih. Bles! Batang kemaluan adek ci Meisya akhirnya
berhasil masuk ke dalem dubur Ratih yg sudah tak keruan bentuknya karna
sedari tadi diobok-obok oleh ci Meisya.
Rasa sakit bercampur nikmat membuat Ratih membelalakkan matanya, ia membuka mulutnya dan merintih
“Aaa..” Ci Meisya membaringkan Ratih dari posisi terduduk menjadi
terlentang dengan adeknya di bawahnya (dan batang kemaluannya yg sudah
menancap ke dalem lubang dubur Ratih).
“Ratih, aku yakin kamu akan menyukai ini dan pasti ketagihan sesudah
ini.” Ci Meisya memasukkan dildo-nya ke dalem lubang kemaluan Ratih.
Ratih yg berada di tengah dengan keadaan tak berdaya, berusaha menahan
nikmat bercampur nyeri di lubang kemaluan yg sudah dihujami dildo dari
ci Meisya — serta batang kemaluan adek ci Meisya yg menancap di lubang
duburnya. Mulailah ranjang bergoyang.. mulanya perlahan, tetapi semakin
lama semakin cepat.. demikian pula dengan rintihan-rintihan Ratih..
“Aaa.. aa..” Ratih masih mengnikmatan kaca mata minusnya ketika permainan ini dimulai.
Ci Meisya tertawa melihat Ratih berusaha bertahan:
“Jangan ditahan dan jangan dilawan Ratih — nikmati aja, sayg!!”
Perlahan-lahan rintihan Ratih mulai berubah menjadi jeritan nikmat penuh
birahi..
“Ah.. ah.. yess.. mmhh.. MM.. AAHH..” Kenikmatan disetubuhi di kedua
lubangnya secara bersamaan membuat Ratih kehilangan kendali. Ratih yg
sopan dan alim perlahan larut.. perlahan berubah menjadi Ratih yg liar,
sifat liar yg seakan ditularkan dari ci Meisya — meracuni pikiran Ratih
yg semula begitu bersih dan polos.
“Yah.. teruskan!! LEBIH CEPAT LAGI CI MEISYA..!! AA.. AA.. MMHH.. MM..”
Ratih menggenggam seprei ranjang dengan sangat kuat, keringat meluncur
deras dari sekujur tubuhnya — membuat kulitnya tampak mengkilat di bawah
cahaya lampu. Hal ini membuat Ci Meisya semakin bernafsu mempercepat
gerakan pinggulnya. Ratih semakin menikmatinya — ia memejamkan matanya
sambil memegang rambut ci Meisya.
“AGH.. Nikmat sekali.. Ci.. aa.. aku.. belum pernah.. uuh.. senikmat
ini..” Adek Ci Meisya menganal lubang pantat Ratih sambil meremas-remas
kedua payudara Ratih dari belakang, walaupun ukuran payudara Ratih
relatif kecil — tetapi ini tak mengurangi rangsangan demi rangsangan yg
diterimanya. “Auuh.. ah..” mulut Ratih menganga dan mengeluarkan
teriakan-teriakan yg semakin tak jelas. Tubuhnya pun mulai menegang;
taulah Ci Meisya bahwa “anak didiknya” saat ini hampir mencapai puncak
kenikmatan.
Ci Meisya mengurangi kecepatan bermainnya dan mengubah gerakan
maju-mundurnya menjadi gerakan mengaduk dengan menggoyangkan pinggulnya.
Ratih secara alami mengikuti gerakan Ci Meisya dengan menyesuaikan
gerakan pinggulnya. Hal ini justru menambah kenikmatan bagi Ratih. Sampe
akhirnya — tubuh Ratih benar-benar menegang dan Ratih melepaskan
teriakan yg cukup panjang dan memenuhi seluruh ruangan kedap suara
tersebut. Sesudah itu, teriakan berhenti dan seluruh ruangan menjadi
sepi. Ci Meisya mencabut dildo dari lubang kemaluan Ratih, ternyata
dildo tersebut sudah ditutupi cairan kental dan bahkan saat Ci Meisya
menariknya keluar — ada sebagian dari cairan tersebut menetes dan
adapula yg masih merekat antara dinding kemaluan Ratih dengan dildo Ci
Meisya.
Adek Ci Meisya juga mencabut dildonya dari lubang dubur Ratih dan
merebahkan Ratih yg sudah lemas di ranjang. Ratih masih memejamkan kedua
matanya — Ci Meisya melepas kacamata Ratih yg masih diknikmatannya dan
meletakkannya di meja yg terletak di tepi ranjang.
“Lain kali, kalau mau main — jangan lupa lepas dulu kacamatanya..” Ci
Meisya tersenyum dan mencium Ratih, kemudian ia melepaskan dildonya dan
menggelatakannya begitu aja di lantai. Ia memandang adeknya dan berkata:
“Kamu jangan bengong aja, kamu masih punya tugas satu lagi.” Sesudah
berkata demikian, ia duduk di lantai — melebarkan kedua pacuma:
mengarahkan lubang kemaluannya yg sudah basah ke arah adeknya.
Kemudian ia menunjuk ke arah kemaluannya:
“Ayo: gunakan lidahmu.” Adeknya mengerti apa yg harus dilakukan. Ia
menjilat-jilat lubang kemaluan ci Meisya dengan hati-hati. Kenikmatan, c
ci Meisya memejamkan matanya — nafasnya tak beraturan: desahan- desahan
nikmat meluncur keluar tak terkontrol dari mulutnya. Ia menjambak
rambut adeknya dan menekan-nekan wajah adeknya itu ke lubang
kemaluannya:
“Errghh.. aaghh.. niikkmmaatt sekkaallii.. ss..!!” Ci Meisya benar-benar
menikmati setiap hisapan dan jilatan yg diberikan adeknya ke liang
keperempuanannya, tetapi di tengah ambang sadar dan tak — Meisya ingat
bahwa ia tak ingin mencapai klimaks dengan cara seperti ini.
“Aah.. tunggu say — bee.. berhentii duluu.. mmh.. sekarang giliran.. cici ngerjain punya kamuu..”
Adek Ci Meisya menurut dan berhenti. Ci Meisya bergerak kemudian
berjongkok membelakangi adeknya, sekarang ia dalem keadaan berjongkok
menghadap pantat adeknya. Adeknya agak kebingungan dengan tingkah laku
cicinya. Tetapi Meisya cuek aja: tangan kirinya ia lewatkan di antara
kaki adeknya, dan dengan tangannya itu ia mencengkeram buah pelir
adeknya dengan halus dan mulai memijat- mijatnya. “Tenang aja, sayg —
kujamin kamu akan suka sekali..” Ci Meisya tersenyum penuh nafsu, dan
dengan tangan kiri masih memegang buah pelir adeknya — ia mengangkat
telapak tangannya, menghadapkannya ke arah wajahnya — dan meludahi
tangannya sendiri kemudian mengerut-ngerutkan tangannya.
Kemudian ia melingkarkan tangan kanannya dari pinggang sebelah kanan
adeknya — langsung menuju ke arah kontol adeknya. Dan mulailah ia
mengocok-ngocoknya batang kemaluan adeknya itu dengan tangan kanannya yg
sudah dilumasi air ludahnya sendiri.
“Aaaghh.. duh, nikmat sekali ci..” Ci Meisya meneruskan gerakan
tangannya sampe ia merasa batang kemaluan adeknya sudah cukup keras.
Sesudah itu, ia membalikan tubuhnya dan mengambil posisi nungging di
lantai. Taulah adek ci Meisya apa yg diinginkan cicinya ini. Ia juga
mengatur posisi di belakang cicinya:
“Awas ya — pokoknya aku nggak mau anal. Maenin lubangku yg biasa aja.” Adeknya menurut, dan permainan dimulai.
Adek ci Meisya memulai gerakannya dengan perlahan, “Mmm.. masih kurang,
lagi dong!” Gerakan dipercepat, Ci Meisya memejamkan matanya kenikmatan.
Ia menambah kenikmatan dengan menggesek-gesek klit-nya sendiri, dengan
sebelumnya membasahi jari-jarinya dengan cara mengulumnya sendiri.
“Uuuaah.. enaakk sayaang.. Mmmh..” Permainan ini berlangsung agak lama
sampe ci Meisya minta ganti posisi lagi. Kali ini ia ingin disetubuhi
dengan posisi tubuh menyamping. Ci Meisya menyampingkan tubuhnya yg
seksi dan sudah mandi keringat tadi ke arah kanan, sementara adek Ci
Meisya mengangkat paha mulus cicinya sebelah kanan dan menyandarkannya
ke bahu sebelah kirinya.
Dengan demikian, ia dengan leluasa dapat memasukkan batang kemaluannya ke lubang ci Meisya. Ia mulai bergerak maju mundur,
“Aaahh.. mm..” Untuk sekedar menambah kenikmatan, ia mengarahkan tangan
kanannya ke arah pantatnya sendiri dan menggerakan jari tengahnya
keluar- masuk lubang pantatnya.
“Kyyaahh.. uuhh..” Tubuh ci Meisya terus bergoyang-goyang — payudaranya
pun bergerak naik turun tak beraturan mengkuti irama tubuhnya. Adek ci
Meisya yg sedari tadi bergitu terangsang dengan gerakan payudara cicinya
sendiri itu sudah tak tahan lagi, ia memajukan tangan kanannya guna
meremas payudara kanan cicinya itu.
“Oh — susumu begitu empuk ci..” Ci Meisya cuma tersenyum, ia mencabut
tangannya dari lubang pantatnya — dan ikut meremas payudaranya
bersama-sama dengan tangan adeknya itu. Permainan terus berlangsung, Ci
Meisya merasakan tubuhnya sendiri mulai menegang — ia sendiri sudah tak
mampu berpikir jernih lagi.
Cuma kenikmatan yg dirasakan sekujur tubuhnya sekarang.
“AAHH.. AAKKUU.. MMH..” Keluarlah Ci Meisya, mencapai klimaks yg
diidam-idamkannya dalem posisi menyamping. Tercapailah segala
keinginannya selama ini.
Demikian pula adek ci Meisya, ia segera berdiri karna sudah tak tahan
lagi, dan ci Meisya mengetaui hal ini — karna ia sudah berhasil meraih
klimaks, maka ia berniat membantu adeknya untuk mengeluarkan seluruh air
mani yg sangat ia inginkan itu. Ci Meisya berjongkok, tersenyum
menggoda ke arah adeknya dan mulai mengocok batak kemaluan adeknya
“Nah, sekarang cici ingin merasakan nikmatnya cairan kejantananmu. Ayo
sayg.. keluarkan — jangan ragu.. ayo!” Ci Meisya memainkan batang
kemaluan adeknya naik turun dengan gerakan memutar sambil sesekali
menjilat pangkal kemaluan adeknya.
“Aih.. masih belum keluar juga.. sebentar..” Sambil mengocok batang
kemaluan adeknya dengan menggunakan tangan kanannya, ci Meisya memijat
buah pelir adeknya.
“Ah.. ci.. aku mau keluar nih..!!” Ci Meisya langsung mengarahkan
ujung batang kemaluan adeknya ke arah mulutnya, menyambut cairan air
mani yg segera muncrat masuk ke dalem mulutnya.
Ratih yg sedari tadi tergeletak lemas berusaha bangkit dan merangkak menuju ci Meisya dan adeknya.
“Ci Meisya.. saya juga mau..”, kata Ratih sambil menunjuk ke arah
mulutnya sendiri. Tetes air mani terakhir sudah habis meluncur turun ke
dalem mulut ci Meisya yg seksi. Ci Meisya menelan sedikit air mani
adeknya dan menahan sisanya di dalem mulutnya. Ia tersenyum dengan mulut
belepotan air mani adeknya, membelai Ratih, kemudian membaringkannya,
dan meletakkan kepala Ratih di pangkuannya. Ratih yg sudah lemas cuma
menurut seperti anak kecil. Dengan gerakan yg lembut, ci Meisya
menyentuh bibir Ratih dan menggerakannya ke bawah dengan jari
telunjuknya.
Ratih mengerti apa yg dimaksud ci Meisya, ia membuka mulutnya. Bibirnya
bergetar. Ci Meisya kembali tersenyum — ia mengarahkan mulutnya tepat di
atas bibir Ratih yg sudah merekah, kemudian membuka dan memuntahkan air
mani lengket yg sudah bercampur dengan air liur ci Meisya, turun
memasuki mulut Ratih.
Air mani dalem mulut ci Meisya sudah habis dipindahkan ke dalem mulut
Ratih. Ci Meisya tersenyum lebar dengan sedikit sisa air mani bercampur
liur pekat yg menetes dari ujung bibirnya.
Kembali, dengan gerakan lembut — ci Meisya memberi isyarat kepada Ratih
untuk menutup mulutnya. Ratih menuruti dan tersenyum bersamaan dengan ci
Meisya.
Nah, aku tak pernah pelit kepada gadis manis seperti kamu. Ambillah
bagianmu dan nikmatilah.” Ratih menelan air mani yg sudah diberikan ci
Meisya kepadanya.
“Terima kasih ci..” Kemudian ia bangkit dan duduk — Ratih menyentuh
wajah ci Meisya dengan lembut. Ratih kembali membuka mulutnya, bergerak
maju ke arah bibir ci Meisya sambil menjulurkan lidahnya. Ci Meisya yg
mengerti maksud Ratih segera menyambut ciuman Ratih dengan menjulurkan
lidahnya pula. Mereka berciuman sampe lama — dan saling menjilati
sisa-sisa air mani hingga bersih.
Sejak saat itu, kehidupan ci Meisya dan Ratih selalui dipenuhi dengan
petualangan: hampir setiap bulan Ratih ‘menjebak’ kawan kuliahnya —
entah itu lelaki atau perempuan. Itulah
Kisah Mesum Terkini Bercinta Ruangan Rahasia